Tampilkan postingan dengan label Fakta ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta ilmiah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 November 2009

Janin Bisa Terjebak Di Dalam Kembarannya





Fetus in fetu (atau Foetus in foetu) digambarkan sebagai kelainan yang sangat
jarang yang melibatkan janin terjebak di dalam saudara kembarnya. Janin ini
terus hidup sebagai parasit bahkan setelah kelahiran dengan membentuk struktur
saluran umbilical yang menyedot suplai darah kembarannya dan tumbuh membesar
bahkan mulai membahayakan inangnya. Janin parasit ini anancephalic (tanpa otak)
dan kekurangan organ internal, dan tidak bisa bertahan hidup sendiri, meskipun
ini ‘hampir’ manusia (sekalipun belum berkembang dan aneh)memiliki fitur otot,
jemari, rambut, kuku dan gigi. Fetus in fetu hanya ada sekitar 91 kasus di
seluruh dunia dan tidak dilaporkan.
Fetus in fetu terjadi sangat dini pada kehamilan kembar, saat satu janin
membungkus yang lainnya. Janin dominan tumbuh, sedang janin kembar lainnya hidup
selama masa kehamilan menyerap makanan dari inang kembarannya seperti semacam
parasit. Biasanya, kedua kembar mati sebelum lahir, namun ada juga yang survive.

Hujan Binatang Dari Langit




Hujan binatang sudah jadi fenomena cuaca yang relatif umum, dilaporkan terjadi
di berbagai belahan dunia. Binatang seperti jatuh dari langit layaknya hujan,
biasanya ikan atau kodok. Kadang binatang yang jatuh masih hidup, menunjukkan
bahwa rentang waktu ekstraksi dan saat jatuh lumayan pendek. Beberapa saksi
menggambarkan binatang-binatang itu tampak takut, meskipun sehat, dan berlaku
lumayan wajar setelah kejadian. Pada beberapa kejadian, binatang jatuh dalam
keadaan beku dan mati, bahkan ada yang masih terkurung dalam balok es. Bukti
betapa kuatnya kekuatan cuaca membawa mereka ke ketinggian di bawah nol derajat.
Peristiwa hujan kodok terakhir terjadi di Serbia (2005), London (1998) dan hujan
ikan di India (2006) dan Wales (2004). Di Honduras, Lluvia de Peces (Hujan Ikan)
adalah fenomena unik yang sudah terjadi selama lebih dari seabad, Terjadi di
Departamento de Yoro, antara bulan Mei dan Juli. Saksi dari peristiwa ini
menyatakan bahwa ini dimulai dengan awan hitam gelap di langit yang dibarengi
dengan guntur dan angin kencang dan hujan lebat selama 2 sampai 3 jam. Setelah
hujan berhenti , ratusan ikan hidup ditemukan di tanah. Orang-orang mengambilnya
untuk dimasak.

7.Larva Lalat Membantu Menyembuhkan Luka Lebih Cepat





Dulu, beberapa dokter menyadari bahwa tentara yang di lukanya terdapat belatung
sembuh lebih cepat daripada yang tidak. Belatung memakan sel-sel kulit mati dan
bakteri. Terapi Belatung (dikenal juga dengan Maggot Debridement Therapy –MDT-,
terapi larva) adalah menaruh dengan sengaja belatung pembasmi kuman atau larva
lalat ke kulit yang luka atau jaringan lembut di luka manusia atau binatang.
Praktek ini digunakan secara luas sebelum ditemukannya antibiotik, untuk
membersihkan jaringan mati di luka guna mempercepat penyembuhan. Binatang Bisa
Meledak Alamiah.
Binatang Meledak Secara Alami bisa terjadi karena berbagai alasan. Pada tahun
2004, pengumpulan gas di dalam bangkai sperm whale, berukuran 17 meter panjang
dan 50 ton berat, mengakibatkan ledakan di Taiwan. Ledakan dilaporkan
menyemprotkan darah dan isi perut paus berceceran di sekitar emperan toko, saksi
mata dan mobil. Populasi kodok cukup banyak di Jerman dan Denmark meledak pada
April 2005 pada aksi yang digambarkan sebagai mekanisme pertahanan diri yang
gagal, ktika kodok-kodok itu menggembungkan diri agar terlihat lebih besar saat
diserang burung gagak.

Kuda laut Jantan bisa hamil




Kuda laut bereproduksi dengan cara yang tidak biasa: Yang jantan yang mengandung.
Pipefishes dan seahorse adalah spesies di dunia binatang yang mengalami “male
pregnancy”. Kudalaut Jantan memiliki kantong benih yang digunakan untuk
menyimpan telur yang diberikan sang betina. Saat kawin mereka saling melilitkan
ekor dan sang betina memasukkan tabung panjang yang dinamakan ovipositor ke
katong benih sang jantan. Telur-telur mengalir melalui tabung ke kantong benih
dimana kemudian mereka dibuahi.
Embrio berkembang selama 10 hari sampai 6 minggu, tergantung pada spesies dan
kondisi air. Saat sang jantan ‘melahirkan’ dia memompa ekornya sampai bayi
kudalaut keluar. Kantong kudalaut jantan juga mengatur kadar garam, dengan
perlahan meningkatkan kadar garam di kantong agar sesuai dengan lingkungan luar
saat telur dewasa. Telur yang menetas tidak bergantung pada induk. Beberapa
berkembang bersama dengan plankton. Bahkan kadang-kadang induk jantan memakan
telur yang baru dilahirkannya. Spesies lain (H. zosterae) saat menetas memulai
hidup sebagai benthos.